AKAN AKU BALAS CAHAYA DI SURGA UNTUK GURUKU

0 222

Berbeda dengan hari kemarin, siang ini Jum’at (26/08) suasana terasa sejuk. Rintik hujan beradu dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Bacaan Al-Qur’an dari siswa kembar yang pagi tadi bersapa di depan gerbang sekolah, “Assalaamu’alaikum Ustadz-Ustadzah, Bapak-Ibu Guru..” salam ramah dari keduanya dengan berhenti sejenak sembari menangkupkan kedua tangan, melempar senyum kepada siapa saja yang berbaris menyambut di sana. Kemudian berjalan tidak tergesa-gesa menuju ruang kelas.

“Tap.. tap.. tap..”, langkah kaki menaiki satu persatu anak tangga yang bertulis ‘tangga perempuan’ menuju lantai dua. Terpantau pada CCTV di ruang Tata Usaha, keduanya berpisah di selasar kelas. Masing-masingnya memasuki kelas, satu siswa memasuki Kelas IV Raden Intan II dan satu siswa lagi memasuki Kelas IV Tuanku Imam Bonjol.

“Teet.. teet.. teeeeetttttt..”, bunyi bel 3x di pagi hari pertanda memasuki kelas dan bersiap melaksanakan pembiasaan islami bagi seluruh siswa. Bermula dengan berbaris, terpisah barisan laki-laki dan perempuan, membaca do’a sebelum berwudhu, kemudian berwudhu secara tertib dan berdo’a setelahnya. Berlanjut Sholat Sunnah Dhuha dua rakaat di kelas masing-masing dengan pendampingan Ustadz-ustadzh dan Bapak-Ibu Guru.

Selesai Sholat Dhuha dan menyempurnakannya dengan merapikan kelas dan perlengkapan sholat, siswa turun ke lapangan untuk melaksanakan Upacara Apel Pramuka. Ada jeda makan snack oleh siswa yang dibawakan oleh Ayah Bunda dari rumah sebelum berlanjut pembelajaran hingga siang hari nanti.

“Allahumma shoyyiban nafi’aan..”, terdengar do’a lirih bersahutan antar siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekitar ruang, lorong, dan sudut-sudut sekolah. Beberapa di antaranya ada yang terlihat lebih lama menengadahkan tangan, menundukkan kepala, memejamkan mata, sepertinya ada tambahan do’a selain do’a turun hujan yang dipanjatkan. Cerdas mengambil peluang terbaik saat hujan di Hari Jum’at dengan khusyuk berdo’a melangitkan pinta.

Usai Sholat Jum’at di masjid bagi siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan pria dan sholat dzuhur bagi yang wanita di ruang aula sekolah. Dilanjutkan dzikir, perbanyak sholawat, dan membaca Al-Qur’an kemudian makan siang. Tetapi untuk siswa, makan siang diawalkan sebelum sholat agar tidak terlambat makan siang. Selain itu, agar mudah dan lebih fokus ibadah, melaksanakan pembiasaan islami, dan pembelajaran setelahnya.

Sekira setengah dua siang lewat sedikit, Ayah Bunda dan si kembar yang didampingi oleh Ustadzah Guru Al-Qur’an memasuki Ruang Media Sekolah. Siang ini memang sudah dijadwalkan kegiatan Tasmi’ Al-Qur’an Juz 30 oleh Ananda Khaira Sayyidina siswa Kelas IV Radin Intan II dan Ananda Khaulla Sayyidina siswa Kelas IV Tuanku Imam Bonjol.

Wajah lugu keduanya nampak tegang, namun terkikis oleh senyum semangat yang berkali-kali ditunjukkan. Seolah ekspresi itu bersuara, “Ayah dan Bunda tersayang, terima kasih telah melahirkan dan merawat kami dengan penuh cinta. Kami memang belum bisa membalas apa-apa, tetapi siang hari ini kami persembahkan ayat-ayat cinta-Nya untuk Ayah dan Bunda. Semoga kelak di Surga Allah izinkan kami mengenakan mahkota dan jubah kemuliaan untuk Ayah dan Bunda.”

Ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dari Surah An-Naba ayat pertama hingga ujungnya, terus berlanjut pada surah-surah setelahnya menuju halaman terakhir Al-Qur’an yang dibersamai oleh beberapa Ustadz-Ustadzah Guru Al-Qur’an. Nampak khusyuk kami menyimaknya, beberapa kali terlihat sang Bunda menyuguhkan kedua jempol yang diarahkan kepada di kembar, bentuk dukungan dan ekpresi bangga tak hingga.

Related Posts

“Bleppp…” tiba-tiba listrik padam setelah sekian lama belum pernah kami rasakan. Terjeda sebentar pada Surah Al-Kaafirun, kemudian Ananda melanjutkan bacaan. Bergegas seluruh Guru Al-Qur’an yang ada di ruangan bangkit dari tempat duduk dan menyalakan senter pada gawai masing-masing. Cahaya diarahkan kepada si kembar, menerangi ananda sehingga keduanya tetap nyaman. Streaming Youtube juga terus berjalan, padam listrik tidak menghentikan syiar.

Tiba pada ayat terakhir dilantunkan, bersambung seluruh Guru Al-Qur’an melantunkan do’a khatam Al-Qur’an. “Allahummarhamna bil qur’an..”, terdengar nada memberat tenggelam dalam khusyuknya do’a yang dilantunkan, ikut merinding berada pada momen tersebut. Pecah tangis Ananda dalam pelukan sang Bunda. “Masyaa Allah, Alhamdulillah, Barakallah Nak.. Yaa Allah Ustadzah, ananda menangis karena terharu banyak yang mendo’akan si kembar”, jelas sang Bunda berkaca-kaca.

Pada momentum Tasmi’ Al-Qur’an tersebut sarat akan makna, hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Betapa Maha Agung, Sang Maha Cinta dan Maha Kuasa Allah atas segala sesuatunya. Setiap ayat kalam-Nya menumbuhkan getaran iman dan cinta bagi hamba-Nya yang beriman. Sang Maha Cahaya Bercahaya yang menerangi seluruh bumi hingga tempat tersembunyi, bahkan di dalam dada manusia.

Anak yang sholih, tumbuh bersama Al-Qur’an. Bersamanya ada Ayah dan Bunda yang menaruh perhatian besar pada tumbuh kembang anaknya dan memastikan kebaikan setiap prosesnya. Para Guru yang tidak jemu mendo’akan, menanamkan ilmu, dan karakter yang baik lagi membaikkan. Para Ustadz-Ustadzah yang tidak mengenal lelah mengajarkan Al-Qur’an, sedari membaca terbata-bata, menghafalkannya, dan mewajibkan mengamalkannya.

Selamat mendulang pahala bagi siapa saja yang berperan terhadap kesholihan ananda. Memanen pahala yang tiada habisnya. Kucuran kebaikannya mengalir deras seperti air hujan yang turun ke sungai, mengalir ke laut yang tiada ujungnya, begitu seterusnya. Cahaya yang secara spontan diarahkan ke ananda saat Tasmi’ Al-Qur’an akan memantul kepada Ustadz-Ustadzah, Bapak Ibu Guru, dan Ayah Bunda.

“Nuruun ‘alaa Nuur..”, Qur’an Surah An-Nur ayat 35 yang artinya ‘Cahaya di atas Cahaya’. Cahaya Allah yang terangnya tidak tertandingi. Sedang cahaya yang ada dalam diri orang mukmin merupakan manifestasi kemahacahayaan Allah. Maka, kita senantiasa memohon cahaya Allah agar diterangi kehidupannya, ditunjukkan jalan agar tidak tersesat dalam gelimang dunia.

 

Oleh karenanya, Barakallahu fiikum..

“Ustadz-Ustadzahku.. akan ku balas cahaya senter gawaimu dengan cahaya cinta dariku. Cintaku pada Rabbku, yang kelak akan ku pintakan untukmu cahaya terbaik yang tak bisa ku balas di dunia. Cahaya Cinta di Surga Allah ta’alaa.”

=========================================

Tim Humas SDIT Permata Bunda III Bandar Lampung

Leave A Reply

Your email address will not be published.